Pertemuan Rahasia — Obrolan yang Memakan Waktu [CHATTING]

Masih ada lima belas menit sebelum waktu yang sudah dijanjikan. Aku menatap jam di HP, semakin kesal melihat detik-detiknya yang berjalan lambat sekali seperti siput. Lagian, ini kan waktu berharga yang cuma bisa aku dapatkan sebulan sekali.

Sebenarnya aku pengen datang setiap hari. Tapi di satu sisi dia juga punya keadaannya sendiri, plus aku yang lagi nggak ada jadwal syuting jelas nggak cukup kaya buat nyewa tempat ini tiap hari. Sempat kepikiran juga, “Mending beli mejanya aja deh.” Tapi aku nggak yakin, kalau mejanya dipindah keluar dari ruang baca ini, apakah kekuatan ajaibnya masih ada. Lagipula, aku juga nggak mau kehilangan markas rahasia ini yang bisa aku datangi tanpa harus pakai masker.

Aku membuka surat yang sudah kutulis, meletakkannya di atas meja, lalu membaca ulang isinya.

「Lama tidak jumpa, Shizuka. Aku sudah sangat menantikan hari ini.

Minggu lalu, aku pergi ke Tokyo karena ada proyek majalah. Di salah satu wawancara sebelumnya aku bilang mulai tertarik dengan budaya zaman Taisho, makanya bisa ikut liputan tentang bangunan bersejarah dari masa itu. Itu semua berkat kamu, Shizuka.

Tapi di lokasi liputan, aku nggak nemu bangunan yang masih terawat seindah rumah ini, dan juga nggak nemu kota yang punya suasana khas yang melampaui waktu seperti di sini. Mungkin karena orang-orang Kobe[1] punya keyakinan yang sangat kuat untuk mewariskan hal-hal indah ke masa depan. Kalau dipikir-pikir, aku sendiri ikut merasa bangga. Bisa punya perasaan seperti ini, mungkin karena sudah kenal dengan Shizuka dan terpengaruh olehmu. — Kogushi Ichiru」

Surat yang kutulis biasanya nggak pernah seformal dan sopan begini. Kata-kata kayak “ikut merasa bangga” juga cuma pernah kudengar di kelas, nggak pernah kupakai sehari-hari. Habis baca ulang, aku hampir nggak percaya ini tulisanku sendiri. Tapi begitu ingat siapa penerimanya, muncul rasa kompetitif yang agak nggak masuk akal: sebagai orang Jepang zaman modern, tulisanku nggak boleh bikin malu.

Begitu HP menunjukkan pukul tujuh belas, aku langsung menutup laci yang sudah berisi suratku. Lalu tarik napas dalam-dalam, dan pelan-pelan membuka laci itu kembali.

Dalam sekejap, seperti sulap, kertas surat di dalamnya berubah.

— Menjadi surat dari gadis zaman Taisho yang dikirim untukku.

「Selamat siang, Ichiru-sama. Hari-hari yang membuatku menguap-nguap karena bosan, semuanya kuhabiskan untuk menantikan pertemuan rahasia ini. Sehari tak berjumpa, rasanya bagai tiga musim gugur.

Beberapa waktu lalu, waktu membaca di koran bahwa untuk pertama kalinya perempuan mendapatkan izin mengemudi mobil[2], aku langsung tidak sabar dan pergi ke rumah tetangga, Tuan Shiomi, buat minta diajarkan menyetir. Tapi baru saja meminta, wajah Suzu Nee-san langsung berubah, dia datang menyergap dan memarahiku habis-habisan sampai aku diam membisu.

Kakakku itu memang suka sekali berpegang pada aturan lama dan cerewet. Tadi saja dia masih mengomeli supaya aku cepat berlatih piano. Aku buru-buru menolak dan kabur ke ruang baca ini untuk bersembunyi, nyaris saja terlambat untuk janji kita. — Hinata Shizuka」

Sama seperti aku, Shizuka juga sudah menulis suratnya lebih dulu untuk janji hari ini.

Kalau di zaman modern laci ditutup pelan, isinya akan terkirim ke zaman Taisho.

Kalau di zaman Taisho laci ditutup pelan, isinya akan terkirim ke zaman modern.

Baik aku maupun Shizuka nggak ngerti bagaimana prinsipnya. Kami cuma menemukan fenomena ini secara kebetulan. Awalnya kami saling curiga, lalu bergantian meninggalkan pesan singkat di kertas kecil untuk menguji identitas satu sama lain. Akhirnya kami menyimpulkan bahwa ini adalah keajaiban lintas waktu yang disebabkan oleh meja tulis itu. Setelah itu, kami mulai menentukan tanggal untuk saling bertukar surat, dan dimulailah surat-menyurat ini.

Setelah beberapa kali bertukar surat, aku mulai memahami situasinya sedikit demi sedikit.

Ruang baca ini milik ayah Hinata Shizuka. Ayahnya diplomat yang lama bertugas di Inggris, jadi Shizuka sering menyelinap masuk untuk membaca. Meja tulis tempat dia secara tak sengaja memasukkan surat yang dulu adalah peninggalan kakeknya yang sudah meninggal. Meja itu katanya buatan pesanan, tapi asal-usulnya masih misterius.

Habis membaca surat Shizuka, aku ambil kertas surat baru, lalu dengan pensil mekanik aku menulis cepat beberapa baris pendek.

「Suzu Nee-san juga bilang begitu karena memikirkan kebaikanmu, Shizuka. Kalau terus bikin dia khawatir, kasihan dia nanti.」

Aku tutup laci yang berisi kertas itu, lalu buka lagi. Di baris berikutnya yang kutulis terburu-buru, sudah muncul balasan dari Shizuka.

「Itu karena Suzu Nee-san sendiri yang mudah marah. Dari kecil, aku cuma main tangkap ular atau jalan dengan tangan, tapi dia sudah mengomel ‘Tidak pantas sekali!’ seolah-olah aku melakukan kejahatan besar. Dia selalu bersikap seperti ipar yang menekan menantu baru. Sungguh, lebih baik Ichiru yang jadi kakakku saja.」

「Entah harus senang atau tidak. Tapi mengurus diri sendiri saja sudah repot, aku nggak punya kepercayaan diri buat jadi kakak orang lain.」

Sekarang kami memakai selembar kertas catatan yang sama, bergantian menulis balasan secara real-time. Di dalam “pesan singkat” ini, kami saling memanggil dengan huruf latin: Ichiru dan Shizuka. Soalnya lebih cepat daripada harus menulis kanji “静” [Shizuka] atau “一琉” [Ichiru]. Ini bisa dibilang buku harian saling tukar yang paling cepat dan jaraknya paling pendek di dunia… atau justru sebaliknya. Karena untuk mengantarkan surat ini, dibutuhkan waktu yang kalau didengar saja sudah bikin pingsan—satu abad penuh di perjalanan. Dibanding ngobrol di X atau WeChat, ini jauh lebih lambat, isinya lebih pendek, dan tangan jadi pegal. Tapi kecepatan ngobrol kami sudah nggak bisa lebih cepat lagi dari ini.

「Ichiru juga bakal muak kan sama adik yang seperti kuda liar lepas kendali begini?」

Aku sempat cek dulu di HP cara baca “牝马” [Kuda] yang ditulis Shizuka, baru menjawab.

「Mana mungkin. Kalau punya adik seperti Shizuku, aku pasti tiap hari ketawa-ketawa.」

Shizuka sekarang kelas dua di sekolah menengah putri—kalau di zaman sekarang setara kelas 2 SMP, umurnya genap empat belas tahun. Karena lebih muda setahun dari aku, dia masih agak segan padaku sebagai orang yang lebih tua. Tapi soal rasa ingin tahu dan semangat bertindak, dia jauh lebih hebat. Misalnya, waktu tahu aku kesulitan membaca tulisan tangannya, dia langsung menyesuaikan dengan membalas pakai huruf cetak seperti di buku, biar lebih gampang kubaca. Selain itu, dia juga sering mengeluh karena di sekolahnya pelajaran menjahit dan pekerjaan rumah terlalu banyak, sementara bahasa Inggris dan matematika terlalu sedikit. Ini pertama kalinya dalam hidupku ketemu orang sebaya yang mengeluh karena jam pelajarannya kurang.

Kalau gadis ini yang punya kesempatan, dan kalau laci meja itu cukup besar untuk memuat satu orang, dia pasti langsung merangkak masuk ke zaman ini, seperti robot kucing dari masa depan.

「Aku nggak pantas. Kalau beruntung punya kakak seperti Ichiru yang fotonya bisa muncul di majalah, perempuan yang passionate, pasti suasana di rumah jadi lebih bebas dan tanpa beban.」

「Nggak sehebat itu. Sekarang majalah ada di mana-mana, lagipula aku belum punya popularitas yang pantas dibanggakan.」

「Justru hebat sekali, tolong banggalah. Misalnya teman sekelasku yang bernama Amatsu, tulisannya pernah dimuat di Shoujo Gahou atau Shoujo no Tomo[3]—aku lupa yang mana—tapi dia langsung menempelkan artikel itu di dinding asrama seolah ingin memberitahu seluruh dunia.」

「Di zamanku, aku nggak punya cukup keberanian buat melakukan itu. Malu banget.」

Membayangkan seseorang memamerkan majalah yang memuat dirinya di depan seluruh sekolah, aku bahkan nggak berani membayangkan akibatnya. Dalam hati aku bertekad, suatu saat nanti harus mengajarkan Shizuka istilah modern “kena mental” itu.

「Kalau begitu, bisakah aku melihat wajah Ichiru yang dimuat di majalah?」

Akhirnya datang juga! Aku sudah menduga hari ini mungkin akan sampai ke tahap ini, makanya sudah siap-siap. Tapi justru karena sudah siap, aku merasa agak cringe dan nggak tega menawarinya duluan.

Aku mengeluarkan map transparan dari tas. Isinya adalah artikel yang kugunting dari majalah Fromteen edisi hampir dua tahun lalu. Di rubrik fashion aksesoris musim gugur itu aku banyak difoto, dan yang kupilih adalah halaman yang membuatku terlihat paling dewasa. Karena ini pertama kalinya mengirim foto asli ke Shizuka, kesan pertama nggak boleh salah. Setelah berpikir panjang, akhirnya kupilih yang ini. Tapi semua pertimbangan itu kukamuflase, dan aku kirim pesan dulu.

「Di zaman Shizuku, rambut dan bajuku mungkin kelihatan aneh ya. Aku agak minder nih.」

「Kalau dilihat dari masa depan, pakaian kami yang justru kelihatan seperti orang purba yang ketinggalan zaman, tau. Jadi sama saja. Lagipula, aku sangat ingin melihat wajah Ichiru Nee-san.」

Di satu sisi dia jujur soal perbedaan selera, di sisi lain dia tanpa sadar sudah memanggilku “Nee-san”. Gerakan itu membuat hatiku deg-degan, sampai sempat menahan napas. Di beberapa hal, dia memang sangat nekat.

「Baiklah. Tapi lain kali Shizuku juga harus kasih lihat fotomu ya.」

「Tentu saja. Aku akan segera pergi ke studio foto. Lagipula itu rumah teman Amatsu, jadi Suzu Nee-san pasti bisa aku tipu dengan mudah.」

「Oke, meski masih malu, aku kirim sekarang, ya.」

Aku menempelkan guntingan majalah di surat, lalu memasukkannya ke laci. Tepat saat tangan kiri hendak menutup laci, HP di atas meja berbunyi notifikasi. Secara refleks tangan kanan meraihnya, tapi karena terburu-buru, HP itu terlepas dan jatuh ke dalam laci.

Di kepalaku sempat terdengar teriakan “Ah!”, tapi tangan kiri sudah terlambat menghentikan gerakan. Saat HP masih berada di dalam, laci sudah tertutup rapat.

iPhone kelahiran abad ke-21 itu, melintasi seratus tahun, terbang menuju gadis di zaman Taisho.

Catatan:

[1] Kobe: Kota di wilayah Kansai, Prefektur Hyogo, bagian barat Jepang. Termasuk dalam kawasan metropolitan Osaka dan salah satu kota besar di area Keihanshin (Kyoto–Osaka–Kobe). Ibu kota Prefektur Hyogo sekaligus pelabuhan perdagangan internasional penting. Tahun 1868, Kobe menjadi salah satu dari lima pelabuhan Jepang yang paling awal dibuka untuk perdagangan dengan luar negeri. Setelah dibuka, kota ini jadi jendela masuknya peradaban Barat ke Jepang dan berperan besar dalam pertukaran budaya Timur-Barat. Sampai sekarang, di pusat kotanya jarang ada gedung pencakar langit, masih banyak bangunan yang mempertahankan suasana perpaduan Timur dan Barat.

[2] Perempuan Pertama yang Mendapatkan Izin Mengemudi: Hama Watanabe, pada 27 September 1917, menjadi perempuan pertama di Jepang yang tercatat resmi mendapatkan SIM mobil — momen ini terjadi di awal zaman Taisho, setahun sebelum hukum nasional soal SIM baru diadopsi tahun 1918, jadi izinnya waktu itu dikeluarkan langsung oleh prefektur setempat.

[3] Shoujo Gahou dan Shoujo no Tomo: Shoujo Gahou adalah majalah khusus gadis di Jepang, terbit pertama kali tahun 1912 dan berhenti tahun 1942. Majalah ini terkenal karena menemukan bakat Yoshiya Nobuko yang saat itu belum terkenal, dan memuat karya terkenalnya Hanamonogatari (Kisah Bunga). Tahun 1942, karena kebijakan pemerintah, majalah ini digabung dengan Shoujo no Tomo yang sudah terbit sejak 1908. Shoujo no Tomo juga memuat karya Yoshiya Nobuko dan Otome no Minato karya Kawabata Yasunari. Majalah ini akhirnya berhenti terbit tahun 1955.