Keseharian Gadis Itu

Group Penerjemah:YuriBase Novel

――Kelengkungan kayu, ketegangan pada tali busur, hingga pergerakan angin.

Merasakan semua itu, Krische melebarkan pijakan kakinya dengan tenang.

Alih-alih menegangkan otot, Krische berfokus pada sesuatu yang mengalir lancar ke setiap sudut tubuhnya.

Sesuatu itu adalah mana, sebuah kekuatan tanpa wujud yang dipersepsikan Krische sebagai 'sensasi empuk berbulu'.

Alih-alih menggerakkan otot-ototnya secara manual, ia memanfaatkan mana untuk mengendalikan lengan dan kakinya, seolah-olah tubuhnya sendiri adalah sebuah boneka.

Dengan meniru gerakan pemburu ahli yang ada dalam ingatannya, Krische menerapkan pergerakan itu ke tubuhnya sendiri.

Karena sudah terbiasa mengendalikan tubuh menggunakan mana setiap hari, kram maupun kekakuan otot sama sekali bukan masalah baginya.

Tubuhnya bergerak persis seperti yang ia bayangkan—selalu terkontrol, menjadi sosok dirinya yang ideal.

Kapan ia mempelajari teknik ini? Umur dua tahun? Tiga tahun?

Krische hanya memiliki ingatan samar tentang sudah berapa lama ia hidup saat itu, tetapi kira-kira di usia itulah.

Tubuh Krische memang masih sangat muda dan lemah sama seperti anak-anak sebayanya, tetapi dengan mengendalikannya menggunakan sihir, ia bisa menjadi hampir sama kuatnya——tidak, bahkan lebih kuat daripada orang dewasa.

Itulah alasannya ia bisa dengan mudah menangani busur panah yang sebenarnya agak keras dan berat untuk ukuran anak-anak.

Gesekan dan pergerakan di semak-semak rumput.

Dalam rentang waktu yang terasa melambat itu, ia berfokus pada suara tersebut dan menahan napasnya dalam diam.

Momen hening sejenak——lalu dentang tali busur membelah udara.

Anak panah yang terlepas melesat masuk ke dalam semak-semak, disusul suara hantaman tumpul dari nyawa yang baru saja terenggut.

Tanpa perlu melihat pun, Krische sudah yakin tembakannya tepat sasaran. Ia mendekat dan menatap tanpa ekspresi ke arah kelinci yang berkejang-kejang dengan panah menancap di lehernya.

Ia lalu memegang kaki kelinci itu dan berjalan menuju sungai, di mana ia memegangnya terbalik dan menggorok lehernya menggunakan pisau.

Darah mengalir deras, dipompa oleh detak jantung yang makin melemah, menetes dan membasahi tanah.

“Mm, bagus kalau begini.”

Menguras darah dengan cepat adalah rahasia untuk mendapatkan daging yang lezat——jika tidak, dagingnya akan mengeluarkan bau amis yang menyengat.

Krische dengan cekatan mengambil seutas tali dan mengikat kaki kelinci itu ke pohon, menggantungnya dalam posisi terbalik.

Kejang-kejangnya makin melemah hingga akhirnya berhenti bergerak sama sekali.

Saat sedang menatap hampa kehangatan nyawa yang perlahan menguap dari tubuh kelinci itu, terdengar suara langkah kaki dari arah belakangnya.

“……Krische, lagi ngapain?”

“Tou-sama, Ojii-sama.” (Catatan: Tou-sama = Ayah / Ojii-sama = Kakek)

Dua orang pria melangkah keluar dari semak belukar.

Pria jangkung dan kurus dengan janggut di sekitar mulutnya adalah Gorka.

Ayah angkat Krische, seorang pemburu muda yang tangguh sekaligus pemimpin kelompok.

Yang satu lagi adalah ayah Grace——kakek Krische, Gallen.

Dia adalah pahlawan desa, pria veteran yang pernah mengecap tujuh medan pertempuran dan berhasil meraih pangkat centurion.

Rambut putihnya yang kasar berpadu dengan pengalaman tempurnya menciptakan aura yang disegani dan sulit didekati, tetapi dia adalah kakek yang penyayang dan sangat memanjakan Krische.

Krische sendiri juga sangat dekat dengan kakeknya.

Para pemburu di desa biasanya bergerak secara berpasangan.

Gorka tidak terkecuali; ia selalu berburu bersama Gallen, ayah Grace sekaligus mentornya sendiri.

Keduanya tampaknya berhasil melumpuhkan buruan mereka hari ini. Di antara mereka membentang sebatang kayu dengan seekor babi hutan yang terikat padanya.

Melihat tiga anak panah yang menancap mendalam, perburuannya pasti cukup sengit.

Babi hutan itu tampak gemuk, sebuah hasil tangkapan yang besar.

“Ehehe, Krische sedang latihan memanah. Krische pikir semuanya akan jadi lebih mudah buat Tou-sama kalau Krische juga bisa berburu.”

Ucapannya persis seperti apa yang terlihat.

Namun, meski penjelasannya tidak salah, itu kurang akurat.

Krische merasa belum puas dan menginginkan lebih banyak daging untuk sup di rumah, tetapi ia tidak ingin mereka menganggapnya sebagai anak yang maruk.

Ini cuma latihan memanah. Kelinci yang ia dapatkan hanyalah kebetulan semata——itulah yang ia ingin mereka pikirkan.

Krische adalah sosok yang berpusat pada diri sendiri dan narsis, karena itulah ia menerapkan standar yang sangat tinggi untuk dirinya sendiri.

Ia selalu menjaga kebersihan dirinya, menjaga sopan santun saat di depan orang lain, dan tidak segan berusaha keras demi menjadi sosok yang dianggap sempurna.

Semua ini timbul dari rasa estetika maupun pemikirannya yang tinggi hati. Dasar dari pemikiran itu adalah keyakinan bahwa ia harus menjadi lebih baik dari siapa pun.

Bagi Krische, terikat oleh hasrat dan emosi dasar tidak lebih dari bukti kebodohan.

Sudah sepatutnya ia bertindak secara rasional tanpa tergoyahkan oleh emosi semacam itu——karena Krische berpikir demikian, rasa laparnya yang tak tertahankan ini adalah hal yang memalukan, sebuah aib, dan cacat fatal yang menghalanginya mencapai sosok dirinya yang ideal.

Tentu saja Krische juga manusia biasa——ia pernah berpikir, bukankah tidak apa-apa kalau cuma sekadar lapar? Krische tidak bisa menahannya lagi pula.

Namun di sinilah letak tragedinya.

Pikirannya memiliki 'baut yang lepas' pada bagian penting, membuatnya menjadi sangat objektif terhadap dirinya sendiri.

Objektivitas yang sangat kuat ini membuat Krische tidak bisa mentoleransi cacat kecil tersebut.

“E-Emm, lalu ada kelinci yang kebetulan lewat, jadi….. Krische coba bidik. Terus…… lal-lalu, Tou-sama pasti capek kalau harus berburu tiap hari, jadi, jadi Krische pikir akan lebih baik kalau kita makan lebih banyak daging, emm……”

――Krische bukan anak yang maruk. Krische cuma berniat membantu.

Ini jelas-jelas bukan karena Krische kalah oleh rasa lapar, tapi demi membantu orang tuanya yang selalu merawatnya dengan baik.

Bahkan saat berusaha menjelaskan hal itu dengan percaya diri, ia merasa telah melakukan sesuatu yang memalukan, hingga tutur katanya terputus-putus dan malah terdengar seperti alibi yang dibuat-buat.

“P-Pokoknya, Krische cuma mau bantu Tou-sama.”

Namun baginya, itu adalah argumen yang sempurna.

Ia sangat yakin bahwa dengan penjelasan ini, mereka tidak akan menganggapnya maruk.

“Kuku, iya, iya, Kakek paham. Cucu yang berbakti.”

Kakek Gallen tersenyum maklum pada Krische.

Tentu saja alasan kekanak-kanakan itu tidak mempan pada orang dewasa. Beliau cuma membiarkannya karena merasa geli mendengarkan alibi Krische.

Krische sendiri tidak paham apa arti senyum maklum yang mereka tunjukkan setiap kali ia beralasan.

“Ehehe, terima kasih.”

Krische tersenyum polos tanpa rasa curiga, yakin bahwasanya alasannya telah berhasil.

Gallen tersenyum melihat kelakuan cucunya yang seperti biasa, lalu mengambil busur buatan tangan Krische untuk diperiksa——namun pria satunya lagi, ayahnya, malah mematung dalam kebingungan.

Setelah merenung sejenak, Gorka bertanya dengan hati-hati.

“……Kelinci itu, Krische, kamu yang memanahnya?”

“Iya. Krische sekarang sedang menguras darahnya.”

Mendengar jawaban itu, kening Gorka berkerut sambil menatap Krische.

“Siapa yang mengajarimu? Seingat Ayah, Ayah belum pernah mengajarimu……”

“……? Krische cuma melihat Tou-sama melakukannya beberapa kali.”

Melihat Krische memiringkan kepalanya bingung, Gorka berbisik pelan, Mana mungkin.

Ia memang pernah memperlihatkan cara memanah pada Krische beberapa kali.

Tapi cuma sebatas itu.

Ia sama sekali tidak berniat mengajarinya cara menggunakan busur.

Lagi pula, Krische adalah seorang anak perempuan, ia tidak mungkin menjadi pemburu.

“Krische cuma belajar dari memperhatikan, jadi belum sehebat Tou-sama. Tapi Krische sekarang sudah bisa membuat anak panahnya terbang tepat ke tempat yang Krische incar, ehehe.”

Ia menoleh ke arah kelinci dengan anak panah yang menancap bersih di lehernya.

Pemburu ahli seperti Gorka tidak perlu melihatnya menembak secara langsung.

Hanya dari posisi anak panah dan seberapa dalam tancapannya, ia langsung memahami tingkat keterampilan Krische.

Karena itulah ia sangat terguncang.

“……Cuma dari melihat beberapa kali?”

Gorka sebenarnya sudah tahu kalau Krische punya kemampuan belajar yang mengerikan.

Tapi melihatnya secara langsung seperti ini—melihat keahlian yang ia asah bertahun-tahun didapatkan dengan begitu mudah—membuat rasa dingin merayap di tulang belakangnya.

Krische kemungkinan besar merekam 'beberapa tembakan yang ia lihat' ke dalam ingatannya, lalu seiring waktu, menjadikannya miliknya sendiri.

Bagaimana Gorka memegang busur, posisi berdirinya, hingga pengaturan napasnya. Krische menghafalnya dengan sempurna, memahaminya, dan menguasai poin-poin kuncinya hanya dari melihatnya beberapa kali.

Ia memiliki kecerdasan dan bakat yang tidak abnormal.

Gorka sudah mengetahui hal ini, tetapi ia tetap tidak bisa menenangkan pergolakan di hatinya.

Meninggalkan Gorka yang tenggelam dalam lamunan, Gallen membuka suara.

“Krische, kamu yang membuat busur ini?”

“Iya. Buatannya tidak terlalu bagus, tapi sudah cukup untuk memanah kelinci.”

“Kamu sedikit salah memilih kayunya. Potongannya sudah rapi, tapi kamu harus memperhatikan urat dan serat kayunya. Nanti Kakek ajarkan cara memilihnya.”

“Ehehe…… terima kasih banyak.”

Krische tersenyum saat Gallen mengelus kepalanya, lalu mengalihkan mata ungu indahnya ke arah Gorka.

“……Ada apa, Tou-sama?”

“Ah, tidak ada apa-apa…… Krische, kamu tidak masuk lebih dalam ke hutan, kan?”

“Iya, seperti yang dilarang. Krische menangkap kelincinya di dekat sini saja.”

“Ada legenda tentang monster di kedalaman hutan. Ayah yakin kamu sudah bosan mendengarnya berulang kali, tapi tetaplah sangat hati-hati.”

“Baik, Tou-sama.”

Merasa waktunya sudah pas, Krische mengangguk patuh lalu mengeluarkan pisaunya dan menyayat bagian perut serta kaki kelinci tersebut.

Dengan suasana hati yang baik, ia mencoba menguliti kulitnya, tetapi keningnya berkerut—kulitnya tidak mau terkelupas.

“……Hm?”

“Krische, caramu agak keliru. Untuk menguliti kelinci, kamu harus memulainya dari sini.”

Gallen membantunya sambil tertawa pelan, lalu menguliti kelinci itu dengan mudah.

“……Begitu ya.”

Krische memperhatikannya dengan takjub.

――Gorka menyadari kilatan tak manusiawi di mata Krische, mengingatkannya pada mata seekor ular.

Mata indah Krische memang sangat memikat, tetapi Gorka terkadang merasakan sesuatu yang mengerikan dari mata ungu yang besar itu.

Setiap kali ia mengamati sesuatu, Krische selalu memperhatikannya dengan tatapan yang seolah terpisah dari realita.

Sama seperti saat ada mayat yang jatuh dari ketinggian dulu, pemandangan yang bahkan membuat pria dewasa enggan mendekat.

Gorka teringat bagaimana Krische juga menatap mayat yang hancur itu dengan mata yang sama.

Padahal itu adalah teman sebayanya――tapi Krische mengamatinya dengan tenang menggunakan mata tak manusiawi itu.

Ketika Krische sadar sedang diperhatikan, ia menoleh kembali ke arah Gorka sambil memiringkan kepalanya.

Lalu seolah memahami sesuatu, pipinya sedikit merona dan ia berkata.

“Kelihatannya sederhana, tapi Krische ternyata masih harus banyak belajar……”

Bisa melakukannya adalah sebuah keharusan――standar yang ditetapkan Krische untuk dirinya sendiri memang sangat tinggi.

Krische berpikir Gorka sedang menatap kesalahan bodoh yang baru saja ia buat, benar-benar salah paham akan arti tatapan ayahnya, lalu memalingkan wajah karena malu.

Ekspresi itu sangat menggemaskan, tampak seperti peri kecil.

Melihat putrinya bertingkah seperti gadis normal sebayanya, Gorka menggelengkan kepala, menepis prasangka buruk di pikirannya.

“……Ayah juga dulu begitu waktu masih muda. Bisa melakukan sejauh itu saja sudah lebih dari cukup.”

“Iya, Gorka dulu penakut banget, malah ketagihan mau menguliti tangannya sendiri. Kalau soal itu, mentalmu kuat banget, Krische.”

――Mental yang kuat.

Bukan, bukan itu maksudnya, pikir Gorka.

Bahkan sekarang setelah ia terbiasa mengeluarkan isi perut buruan, tetap saja rasanya tidak menyenangkan harus membuang jeroan hewan yang baru saja bernyawa. Melihat jeroan yang menjijikkan jelas bukan hal yang menyenangkan.

Tapi Krische tetap tenang, mengeluarkan jeroannya dan mengubah kelinci itu menjadi potongan daging.

Apakah Krische tidak merasakan ketakutan yang sama seperti orang-orang normal pada umumnya? Gorka merenung.

“Tou-sama, apa Krische boleh bantu membersihkan isi perut babi huntannya juga?”

“……Iya, tentu saja. Tapi cuci tanganmu dulu. Darah di bawah kuku akan makin susah dibersihkan kalau didiamkan lama.”

“Baik.”

Krische berlari-lari kecil ke sungai dan menggosok darah yang menempel di tangannya.

Melihatnya berlari menjauh, Gorka menggelengkan kepala.

Bagaimanapun juga, itu tidak mengubah kenyataan bahwa ia adalah putri kesayangannya. Bahkan jika Krische berbeda dari anak lainnya, sebagai orang tua sudah menjadi kewajibannya untuk menerimanya apa adanya.

Dengan pemikiran itu, Gorka merasa malu atas rasa takut yang sempat ia rasakan.

Baik Gorka maupun Grace tahu bahwa Krische sedikit berbeda dari yang lain.

Ia sangat cerdas dan pintar, seorang jenius dalam hal apa pun yang ia lakukan, dan dengan cepat mampu menangkap inti masalah.

Namun sebaliknya, ia sangat buruk dalam berkomunikasi. Ia hanya memahami kata-kata secara harfiah sehingga sering terjadi miskomunikasi bahkan untuk topik yang sepele sekalipun.

Apakah karena ia terlalu pintar? Atau mungkin ada alasan lain?

Gorka sadar banyak orang desa yang menganggapnya aneh.

Ia dan Grace sering berdiskusi, terkadang berdebat, dan bekerja sama untuk membantu putri mereka agar bisa membaur dengan yang lain.

Menerima segala kelebihan dan kekurangannya, mereka mencintai dan merawatnya sebagai putri mereka sendiri.

Mengingat mereka tidak dikaruniai anak lain, bagi mereka Krische adalah hadiah dari Tuhan.

Meskipun mereka menyadari keanehan Krische sekarang, mereka tetap mempercayai hal itu.

Yang paling penting, setelah Krische hadir di tengah-tengah mereka, kehidupan Gorka dan Grace menjadi jauh lebih membahagiakan.

――Meski ia berbeda, tolong izinkan dia belajar memahami orang lain dan bisa hidup berdampingan dengan mereka.

Dengan pemikiran itu, Gorka menatap putri kesayangannya dan memperbarui tekadnya.

Sama seperti garam bukit yang mereka tambang, hasil perburuan adalah milik bersama seluruh warga desa.

Daging buruan dipasrahkan kepada para wanita yang bekerja di jagal. Di sana daging akan didiamkan hingga matang sebelum diawetkan dengan cara dikeringkan atau digarami, lalu dibagikan kembali――namun jika semuanya harus dibagi rata, para pemburu tidak akan memiliki motivasi.

Oleh karena itu, para pemburu diberi hak istimewa untuk menyimpan dan membawa pulang sebagian daging yang mereka dapatkan, biasanya bagian yang berlemak yang sulit diawetkan.

Daging babi hutan akan lebih terasa lezat setelah digantung dan didiamkan selama beberapa hari.

Jadi mereka harus menunggu tiga hari kemudian untuk menikmati hak istimewa tersebut. Namun hewan buruan kecil seperti kelinci dan burung adalah pengecualian dari aturan ini.

Buruan besar seperti rusa dan babi hutan adalah buruan yang hanya bisa ditangkap oleh pemburu, tetapi kelinci dan burung tergolong aman dan bahkan bisa ditangkap oleh anak-anak. Hasil ini boleh langsung dibawa pulang ke rumah.

Ada aturan tidak tertulis di antara para pemburu yang melarang masuk ke hutan hanya untuk berburu hewan kecil, jadi hewan-hewan ini dianggap sebagai bonus keberuntungan.

Karena alasan ini, pemburu yang hanya berburu hewan kecil kerap dipandang sebelah mata, dan banyak pemburu yang mendapatkan hewan kecil tetap menyerahkannya ke jagal sebagai milik bersama. Jadi aturan ini tidak pernah menjadi masalah.

Dengan demikian, sebagai hasil buruan yang ditangkap oleh Krische—seorang anak kecil yang bukan pemburu—kelinci itu secara otomatis menjadi milik keluarga mereka.

Krische pulang ke rumah dengan hati puas membawa kelincinya.

Malam itu, separuh daging kelinci dimasukkan ke dalam sup dan separuhnya lagi dipanggang di atas api.

Ini adalah hidangan yang sangat mewah dibandingkan biasanya.

Kelinci yang gemuk itu punya banyak lemak; saat direbus sarinya menyatu ke dalam sup, dan saat dipanggang minyaknya menetes gurih.

Gallen diundang makan bersama, dan mereka berempat mengelilingi meja makan. Percakapan tentu saja berpusat pada Krische.

“……Ini makanan yang kamu tangkap sendiri, rasanya enak, kan?”

“Iya, Ojii-sama. Terakhir kali Krische makan kelinci itu pas festival kemarin…… sudah lama banget, daging kelinci memang enak sekali.”

Saat Krische menggigit paha kelinci, sari daging yang gurih langsung menyebar di dalam mulutnya.

Perpaduan garam, rempah-rempah, dan daging yang dipanggang sederhana di atas bara api menari-nari di atas lidahnya, menciptakan cita rasa terbaik.

Pikirannya dipenuhi rasa bahagia.

Seteguk supnya pun terasa sangat luar biasa.

Rasa dagingnya telah menyatu ke dalam kuah sup, membuatnya terasa kental dan lezat. Dipadukan dengan roti, rasanya benar-benar sempurna.

“Enak, kan? Ini, ambil punya Kakek juga.”

“Eh, emm…… b-baik……”

Krische menerima potongan daging dari Gallen dengan sedikit ragu dan ukiran senyum tipis.

Gallen tersenyum melihatnya lalu menoleh ke arah Gorka.

“Gorka, katanya dia sudah lama tidak makan kelinci. Sesekali dibawakan kelinci dong buat dia. Krische kan lagi masa pertumbuhan.”

“Ah, Krische tidak bermaksud begitu……”

“Anak-anak tidak perlu malu-malu. Waktu Kakek masih kecil dulu, Kakek selalu minta tambah makanan sampai perut Kakek kembung.”

Krische menyipitkan matanya menikmati usapan kasar Gallen di kepalanya.

Grace tertawa riang dan Gorka tampak berpikir sejenak sebelum mengangguk.

“Benar juga kata Ayah. Aku sama Grace porsinya sedikit jadi tidak begitu memperhatikan…… tapi porsi biasanya mungkin memang kurang buat Krische.”

“Iya tuh…… Krische ini sebenarnya agak maruk terlepas dari penampilannya. Kalau ada pedagang keliling datang, matanya langsung berbinar-binar memandangi ikan sama keju.”

“……Eh?”

Krische yang sedang mengunyah roti dan daging secepat yang ia bisa tanpa terlihat tidak sopan, mendadak mematung dengan mata melotot lebar mendengar ucapan itu.

Lalu dengan mata yang bergerak gelisah, ia berusaha membantahnya.

“I-Itu tidak benar, Krische bukan anak yang maruk……”

Seketika tawa mereka bertiga pecah.

“Krische, kamu pikir kami tidak tahu?”

“Fufu, kamu lucu banget……. Semua orang di desa sebenarnya sudah tahu kalau Krische itu porsi makan dasarnya banyak, beda sama penampilannya.”

Pipi putih Krische langsung merona merah dan ia meringkuk karena malu.

“I-Itu bohong…… m-mana mungkin itu benar……”

Krische selalu menyiapkan alibi setiap kali ingin memuaskan rasa laparnya.

Ia sudah menyusun alasan dan alibi yang sempurna—setidaknya dari sudut pandang Krische sendiri——tetapi cacat yang seharusnya tersembunyi rapat itu malah sudah diketahui oleh seluruh warga desa.

Krische benar-benar syok.

“Ibu-ibu yang lain bahkan diam-diam memanggilmu 'Krische-chan si Maruk Kecil'.”

――Citra publik ini benar-benar bertolak belakang dengan sosok ideal Krische.

Matanya berkaca-kaca karena malu dan kulit putihnya berubah merah merona seperti buah apel.

Cara merengeknya yang tertahan karena malu sangat sesuai dengan anak-anak sebayanya.

Ketiganya kembali tertawa riang.

“Biasanya kamu bertingkah sopan banget seperti Ojou-san, tapi ternyata ada gap begini.”

“Malah makin kelihatan imut gara-gara kesehariannya begitu.”

Mendengar percakapan Gorka dan Grace, Gallen berkata dengan senyum tipis.

“Tidak usah malu sama orang tua sendiri, Krische. Apa salahnya punya nafsu makan besar? Krische kan kerja keras tiap hari, tidak bakal ada yang protes kok.”

“I-Itu bukan masalahnya……”

Alasan terbesar di balik porsi makan Krische yang besar adalah penggunaan mana secara rutin setiap hari.

Tubuh orang-orang yang memiliki mana di atas jumlah tertentu akan mengalami perubahan.

Makanan yang masuk akan dicerna dengan sangat cepat dan diubah menjadi energi mana.

Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan mana-nya meningkat seiring tumbuhnya tubuh Krische, hingga sampai pada tahap di mana tidak ada sisa makanan yang tersisa untuk dibuang.

Karena itulah penyebab di balik nafsu makannya yang tidak sesuai dengan penampilannya, dan ia tidak bisa berbuat apa-apa tentang hal itu. Konstitusi tubuhnya ini sebagian besar disebabkan oleh garis keturunan darah, namun garis keturunan seperti itu tidak ada di desa ini.

Sehingga tidak ada seorang pun di desa yang menyadari alasan di balik nafsu makannya, dan itulah tragedi kecil bagi Krische.

“Waktu kecil dulu, Grace sama sekali tidak pernah bantu kerjaan rumah dan egois banget. Kamu ini anak yang rajin tapi terlalu pemalu. Jujur saja dan minta apa yang kamu mau, bilang saja kalau lapar.”

“Aduh Ayah, stop dong.”

“N-Nggak kok, Krische beneran bukan anak yang maruk……”

Sambil tidak mau menerima kenyataan itu, Krische terus menggelengkan kepalanya dan menatap Grace untuk meminta bantuan.

Melihat Krische seperti itu, Grace terkekeh.

“Fufu, anak yang keras kepala. Ya sudah, kami tidak akan menggodamu lagi, jadi makan yang banyak ya.”

Setelah menyelesaikan makanannya, Grace menepuk-nepuk punggung Krische sambil tersenyum.

Krische tetap diam, wajahnya dipenuhi rasa malu saat ia meneguk supnya secara enggan.

“Aduh, gara-gara kalian berdua menggodanya, Krische jadi ngambek kan.”

“Kan Kamu yang mulai duluan.”

“Masa sih?”

Sambil tertawa riang, Grace melanjutkan ucapannya.

“Tapi ya, terlepas dari itu…… kamu membersihkan rumah dan memasak tiap hari, mencari bahan makanan di hutan, dan bahkan membawa pulang kelinci hari ini…… sampai-sampai tidak ada pekerjaan yang tersisa buat Ibu. Kamu harusnya lebih banyak main luar.”

Dengan wajah yang masih merah padam, Krische menjawab dengan mata berkaca-kaca.

“E-Emm…… Krische juga suka kok membersihkan rumah dan m-memasak.”

Krische ingin menekankan bahwa ia memasak karena memang menyukainya, bukan karena ia maruk daging.

Tetapi melihat tatapan hangat mereka, ia merasa alibi itu tidak akan mempan lagi.

Krische mengerucutkan bibirnya sambil menggembungkan pipinya, tetapi Grace malah mencowel pipi itu.

“Ayo dong, jangan ngambek gitu. Fufu.”

“Uuu……”

Puhyuu, udara keluar dari mulutnya dan Krische merengek malu.

Gelak tawa kembali bergema di dalam rumah.

Selesai makan malam, mereka pergi ke hutan membawa piring-piring kotor.

Krische dan Grace menuju ke sungai yang terletak sedikit di dalam hutan.

Dua kali sehari, mereka pergi mandi sambil mencuci peralatan makan.

Air sungai bergemericik, dikelilingi rindangnya pepohonan.

Cahaya bulan sabit berkilauan di atas air yang mengalir, tempat di mana kulit indah seorang gadis yang tanpa busana dibasuh oleh tangan ibunya.

Rambut perak gadis itu tampak menyerap cahaya bulan dan kulitnya seputih salju segar.

Sama-sama tanpa busana, Grace menghela napas kagum saat memandikan tubuh Krische.

“Kamu benar-benar cantik ya, seperti peri.”

“Krische cantik?”

Tanpa rasa malu sedikit pun, Krische merentangkan tangannya dan menepuk-nepuk air.

Ia sempat ngambek saat makan malam tadi, tetapi sekarang saat mandi, suasana hatinya kembali membaik.

Seorang gadis pendiam yang jarang menunjukkan emosi——itulah cara orang lain mendeskripsikan Krische, tetapi jika bersama Grace, ekspresinya sangat kaya dan beragam.

Melihat Krische bermain air seperti anak kecil, Grace tersenyum dan mengangguk.

“Iya, cantik sekali. Krische adalah yang paling cantik di seluruh dunia. Seperti seorang Hime-sama.” (Catatan: Hime-sama = Putri Raja)

“Ehehe.”

Krische memeluk Grace dan menyandarkan kepala di dadanya.

Grace membelai kepala Krische saat ia menggelar kain di atas rumput lalu duduk sambil menjuntaikan kakinya ke dalam sungai.

Ia lalu mendudukkan Krische di pangkuannya dan menyapu sisa-sisa air dari rambut peraknya sebelum Krische kedinginan.

Melirik ke arah langit, Grace tersenyum.

“Lihat deh, bulan malam ini sama persis seperti nama Krische, sebuah krische yang sangat indah.”

“……?”

Krische ikut mendongak menatap langit dan memiringkan kepalanya bingung.

Grace berbicara padanya dengan nada riang.

“Bulan sabit yang melengkung belum sempurna――dalam bahasa kuno, itu disebut krische. Bulan bentuknya seperti ini waktu Gorka melamarku dulu…… karena sangat indah, Ibu memutuskan untuk menamai putri Ibu dengannya.”

“Begitu ya.”

“……Dengernya kok kayak nggak tertarik gitu.”

Grace sedikit mengerucutkan bibirnya, lalu memegang kedua pipi Krische dengan tangannya.

“Ini adalah sebuah jimat. Supaya suatu hari nanti, kamu bisa merasakan kebahagiaan terbesar seperti yang Ibu rasakan.”

“Jimat?”

“Iya. Sama seperti bagaimana Ibu menemukan Gorka, semoga kamu juga bisa menemukan seseorang seperti itu. Tapi mungkin masih terlalu kepagian buatmu ya, fufu.”

Krische memiringkan kepalanya bingung sambil menatap langit.

Bulan di langit hanyalah sekadar bulan, bulan sabit yang pudar sehingga cahayanya sedikit.

Hanya itu yang bisa dipahami Krische――ia tidak bisa mengerti apa yang membuat bulan itu tampak indah.

Bulan itu tidak kotor, yang ada hanyalah perbedaan antara berawan atau cerah.

(Catatan: Kata yang digunakan untuk 'indah' dalam bahasa Jepang juga bisa berarti 'bersih/kristal' - 綺麗)

Karena itulah ia tidak mengerti apa maksud Grace mengenai 'jimat' dan hanya memiringkan kepalanya bingung.

“Emm, ini agak sulit buat Krische……”

“Tidak perlu dipikirkan terlalu keras…… suatu hari nanti, Krische pasti akan paham.”

Apakah memang begitu? Krische jadi makin bingung. Grace hanya tertawa lalu berdiri sambil mengangkat Krische.

Setelah mengeringkan sisa-sisa air di tubuh Krische, Grace mengangguk puas.

“Besok kamu mau latihan lagi?”

“Iya. Pell minta Krische buat melatih dia.”

“Kamu sudah jadi seorang Onee-san ya…… Ibu tidak akan melarangmu, tapi kalian berdua harus hati-hati jangan sampai terluka. Tubuhmu cantik sekali, sayang kalau sampai ada bekas lukanya.”

“Kaa-sama, tidak perlu bilang begitu setiap saat, Krische kan――”

“Ibu kan khawatir. Ayo, angkat tanganmu.”

Setelah Krische mengangkat tangannya dengan patuh, Grace memasukkan gaun melewati kepalanya, menyerahkan pakaian dalamnya, lalu mencium dahi Krische.

“Orang tua memang begini. Tahan-tahan saja ya.”

“Muu, baiklah……”

Krische mengerucutkan bibirnya sambil menunggu Grace selesai berpakaian, lalu menggandeng lengan Grace.

Mereka kemudian saling menautkan jemari dan tanpa mengucapkan kata apa pun, saling melempar senyum satu sama lain.

Kehidupan sehari-hari mereka yang tak berubah terasa sangat damai meskipun diselingi sedikit keluhan kecil.

Kehidupan mereka sederhana namun penuh kebahagiaan. Krische tidak pernah mempertanyakan hari-hari yang berlalu, dicintai sepenuh hati oleh kedua orang tuanya.

Ia hanya memiliki pemikiran samar bahwa hari-hari indah seperti ini akan berlangsung selamanya.

“Ayo, kita pulang. Nggak enak kalau meninggalkan Gorka sendirian terlalu lama.”

“Baik.”

Namun, itu adalah hari terakhir yang ia habiskan bersama keluarganya di desa tersebut.

-End-