Sarapan pagi itu adalah pai labu dingin.
Pai tersebut sebenarnya sangat sempurna, tetapi mengeras saat mendingin dan jadi sulit dikunyah.
Grace dan Galla menghibur Krische yang sedang menyantapnya dengan lesu.
Gorka dan Gallen tidak ada di rumah, begitu pula hiruk-pikuk desa yang biasanya.
――Para bandit berhasil dihalau.
Namun hanya dihalau. Mereka tidak dimusnahkan, begitu pula pemimpin mereka yang belum terbunuh.
Itu artinya serangan malam kedua sangat mungkin terjadi, dan desa kini dalam siaga tinggi.
Krische harus merelakan ritual mandi harian di sungai sambil menangis dan puas hanya dengan mengelap tubuhnya menggunakan seember air. Ia kemudian pergi ke alun-alun desa membawa ember tersebut untuk mengambil air minum.
Biasanya ia mengambil air dari sungai saat pergi mandi, tetapi karena area sungai sekarang dilarang, sumur terdekat berada di alun-alun.
Para pria berkumpul di alun-alun desa.
Sepertinya mereka sedang mendiskusikan pertahanan desa.
Sang pedagang dan empat pengawalnya hadir di sana, tetapi sang asisten tidak kelihatan di mana pun.
Saat melihat Krische, pedagang itu menyimpang dari pembicaraan serius tersebut dan mendekatinya sambil tersenyum.
“Senang melihatmu selamat.”
“……Selamat pagi. Apa Anda akan pergi hari ini?”
“Haha, kamu pasti bercanda. Tidak mungkin kami bisa pergi saat bandit berkeliaran……rumahmu lebih dekat ke hutan, kan?”
Krische tidak menjawab.
Krische memang tidak peka terhadap niat jahat, tetapi bahkan ia pun tahu bahwa pria ini berada di pihak bandit.
Krische sangat ingin menyiksa dan membunuhnya karena telah merusak sup labunya, tetapi ada orang lain di sekitar mereka.
Bahkan jika ia bisa memancingnya pergi, pria itu punya rekan di dalam hutan.
Ia sudah berkali-kali merasakan tatapan dari arah hutan, jadi ada kemungkinan besar ia akan terganggu dan bakal merepotkan jika mereka membuat keributan.
Meskipun membunuh mereka itu mudah, membunuh banyak orang membutuhkan waktu, dan jika ia melakukan pembunuhan secara terbuka, reputasinya akan terpengaruh.
Krische dengan enggan membatalkan niat itu dan membuka mulutnya untuk membalas.
“Padahal Krische sudah membuat sup labu dan pai dari labu itu, tapi Krische tidak sempat memakannya gara-gara hal itu.”
“Meskipun ada bandit yang datang, cuma itu yang kamu khawatirkan? Kamu gadis kecil yang cukup pemberani ya, Ojou-san.”
Pedagang itu tertawa riang sambil menyerahkan sebuah kantong kecil kepada Krische.
“Sayang sekali ya……kalau begitu ambil ini sebagai gantinya.”
Di dalamnya terdapat permen dari hari kemarin.
Krische mengatakan hal tadi dengan harapan kecil bahwa pria itu akan memberinya sesuatu sebagai imbalan, dan rencananya berhasil.
Setelah menutupi sebagian kerugiannya, Krische merayakannya di dalam hati.
“Beneran?”
Grace pernah mengajarinya untuk menolak secara halus sekali saat menerima sesuatu dari orang lain.
Ketika Krische menunjukkan penolakan halus sementara ia tetap berniat menerimanya, pedagang itu tertawa dan mengangguk.
“Iya, tentu saja.”
Krische menimbang keuntungan mendapatkan permen dengan kerugian kehilangan labu, tetapi rasa rugi akibat kehilangan labu sedikit lebih besar.
Sup dan pai itu adalah karya mahakaryanya.
Merusaknya adalah kejahatan berat――tapi permen ini juga tidak buruk.
Kalau begitu aku akan membunuhmu tanpa rasa sakit, mengubah pikirannya, Krische melihat ke sekeliling.
Gorka dan Gallen berada di pusat diskusi bersama Zaal, jadi kelihatannya Krische tidak bisa pergi bicara dengan mereka.
“……tapi tetap saja, jumlah pria di sini sedikit sekali ya? Aku dengar butuh waktu sampai para penambang garam kembali……sepertinya kita harus bertahan sendiri malam ini.”
“Pedagang-san bakal ikut bertarung juga?”
“Aku hanya bisa membela diri……tapi empat pengawalku di sebelah sana lebih bisa diandalkan. Kamu tenang saja, mereka cukup kompeten.”
Empat pengawal itu juga menjadi bagian utama dalam diskusi.
Selain para mantan prajurit, para pria di desa hanyalah pemburu dan pengrajin biasa.
Tampaknya para tentara bayaran itu sangat diandalkan karena pengalaman bertempur mereka.
Jadi begitu cara semuanya terhubung.
“Asisten Anda, kelihatannya tidak ada di sini……apa dia, er.”
“Aaah……dia kabur dalam kekacauan semalam. Aku cuma bisa berharap dia entah bagaimana berhasil selamat.”
Asisten itu adalah sang pembawa pesan. Dia kemungkinan pergi untuk menjelaskan struktur dan tata letak desa kepada bandit lainnya.
Para pengawal ikut serta dalam perencanaan dan memengaruhi pertahanan desa.
Dari apa yang bisa dilihat Krische, mereka berakting dengan baik, warga desa sepenuhnya memercayai mereka.
Warga desa tampaknya memercayai empat pria berpengalaman yang kebetulan muncul tersebut.
Mereka ingin mencuri semuanya dan kabur sebelum para penambang kembali. Jadi malam ini adalah serangan yang sebenarnya, pikir Krische linglung.
Jadi meskipun ia membuat sup labu lagi malam ini, ada kemungkinan sup itu akan terbuang sia-sia lagi.
――Padahal Krische beneran ingin makan labu.
Rasa tidak puas dan ketidakbahagiaan bergejolak di hatinya.
“Ah, maaf. Kamu lagi ada keperluan ya? Pinjam embernya, aku bantu timba airnya.”
Melihat pria itu mengambil ember dan memutar katrol pada sumur, Krische berpikir tentang apa yang harus dilakukan.
Ada juga kemungkinan serangan di siang hari, jadi Krische tidak bisa menggunakan sisa labunya yang berharga.
Krische dengan enggan memutuskan untuk menyimpan labu itu untuk nanti dan membuat sup daging asin dan kentang seperti biasa. Ia menaruh labu itu secara hati-hati di atas rak.
Gallen dan Gorka kembali untuk makan siang. Ia makan roti dengan sup sambil mendengarkan mereka berbicara.
Tujuh belas orang telah terbunuh. Dua gadis telah diculik.
Sebaliknya, mereka hanya berhasil membunuh tiga bandit.
Di desa yang berpenghuni sekitar tiga ratus orang ini, separuh pria yang bisa bertarung sedang pergi menambang. Itu menyisakan paling banyak enam puluh orang yang bisa bertarung, termasuk kaum wanita dan anak-anak yang cukup pemberani.
Setidaknya dua puluh bandit terlihat dalam serangan semalam.
Berdasarkan saksi mata, mereka tidak mengambil banyak barang dan kabur dengan panik saat rekan-rekan mereka terbunuh.
Zaal menganggapnya sebagai serangan penjajakan dan mengatakan bahwa seharusnya ada sekitar empat puluh bandit.
Para pengawal pedagang mengatakan bahwa akan buruk jika mereka terpisah dan dilumpuhkan satu per satu, yang diangguki oleh Zaal dan disetujui oleh yang lainnya.
Hasilnya, mereka memutuskan untuk mengumpulkan kaum wanita dan anak-anak di sebuah gudang di pusat desa, dan para pria akan membentuk barisan pertahanan di sekelilingnya.
Para pemburu mengasah keterampilan memanah mereka setiap hari dan sangat ahli.
Jika pemburu masuk tentara, mereka akan langsung disambut hangat sebagai pemanah. Sudah menjadi hal umum mendengar kabar tentang pemburu yang menjadi instruktur memanah kurang dari sebulan setelah masuk tentara. Jadi dengan persiapan mental yang tepat, para pemburu dengan busur mereka seharusnya sudah cukup untuk menghadapi para bandit.
Sangat masuk akal untuk bertarung dalam pertempuran bertahan di mana keterampilan mereka bisa dimanfaatkan.
Tapi itu kemungkinan besar adalah rencana para bandit, pikir Krische.
Mereka mengumpulkan para wanita, yang bisa dijual, di dalam gudang. Dengan cara ini para bandit bisa mengumpulkan mereka sekaligus dan memastikan tidak ada yang meloloskan diri.
Keempat pria dan sang pedagang akan bergabung dengan para bandit pada momen terbaik untuk menciptakan kekacauan di antara warga desa.
Para bandit pasti akan memiliki keunggulan melawan sekelompok amatir yang kebingungan.
Puas dengan makanannya, Krische meminum seteguk air hangat dan mendesah.
Begitu mereka selesai berbicara, Krische menatap mata Gorka dan berbicara.
“Tou-sama.”
“Ada apa, Krische?”
“Krische pikir pedagang-san dan pengawalnya tidak bisa dipercaya.”
Semua orang membeku.
Gallen dan Gorka sepertinya sedang berpikir sementara Galla dan Grace menatap Krische dengan terkejut.
“Krische-chan, apa mereka melakukan sesuatu padamu……?”
“Tidak. Cuma……”
Krische memberi tahu mereka tentang labu-labu itu.
Ia tidak memedulikannya sebelumnya, tetapi sekarang hal itu makin mencurigakan.
Krische memberi tahu mereka tentang bagaimana mereka mungkin telah membunuh pedagang yang biasanya dan berpura-pura menjadi pedagang untuk menyusup ke desa.
Bahkan jika Krische, seorang anak kecil, membagikan hal ini di pertemuan desa, pendapatnya tidak akan dipertimbangkan.
Krische tidak percaya para pria itu menyukainya sampai-sampai langsung memercayainya begitu saja, dan ada juga kemungkinan diskusi menjadi kacau.
Setelah mempertimbangkan hal itu, Krische memutuskan untuk hanya memberi tahu dua orang yang lebih mungkin mendengarkannya.
Saat Krische selesai berbicara, mata Gorka tampak serius.
“Krische. Kamu yakin melihat barang yang sama persis?”
“Iya. Kecuali jika karena suatu kebetulan mereka memiliki labu yang sama persis. Tapi aneh kalau orang-orang jahat juga kebetulan muncul di waktu yang bersamaan.”
“……A-Aku mengerti.”
Gallen dan Gorka saling pandang.
Semuanya berjalan terlalu mulus.
Gallen sendiri merasa curiga dan telah memberi tahu beberapa orang yang ia percayai, termasuk Gorka, tentang kecurigannya.
Bobot di balik cerita Krische makin memperkuat kecurigaan mereka.
“Kami juga merasa semuanya berjalan terlalu lancar. Terima kasih, Krische.”
“……Bukan apa-apa. Apa yang harus kita lakukan?”
“Beri tahu mereka yang bisa dipercaya dan awasi pedagang itu. Bagaimanapun juga, mengumpulkan kalian semua di satu tempat adalah ide bagus……semuanya akan baik-baik saja, kami akan melindungi kalian apa pun yang terjadi. Percayalah pada kami.”
“Baik, Ojii-sama.”
Krische mengangguk, lalu menatap labu di atas rak.
Saat membayangkan rasanya, seolah-olah ia bisa melihat labu itu bersinar.
Ia berharap semuanya cepat selesai agar ia bisa memakan pai dan sup yang terlewat kemarin.
Hanya itu pikiran yang ada di dalam benak Krische.
“Kemarin Krische tidak sempat minum sup labu. Painya juga jadi dingin……kalau semuanya sudah selesai, boleh Krische buat lagi?”
“Aah, tentu saja. Sepertinya kita tidak boleh mati kalau begitu, Gorka.”
“Iya…..Galla, bisa kupercayakan Krische dan Grace padamu?”
“Tentu saja, aku yang akan menjaga mereka.”
Mengatakan hal itu, ia menepuk kepala Krische.
“Apa Krische boleh mengajak Bibi juga?”
“Iya, Krische juga mau mendengar kesan dari Bibi. Boleh Krische pinjam ovennya lagi?”
“Tentu saja……kenapa kamu menangis, Grace.”
“A-Aku cuma, maaf…..cuma.”
Grace mengusap matanya, lalu memeluk Krische.
Tubuhnya hangat dan lembut. Memeluk Grace selalu terasa menyenangkan.
“……kalau semuanya sudah selesai……ayo kita makan bersama-sama.”
“Iya, Kaa-sama.”
Gorka ikut bergabung, memeluk Krische dan Grace secara bersamaan.
Mugyu, terhimpit di antara mereka berdua, Krische mengerang, membuat Gorka tertawa.
“Tenang saja. Kami pasti akan melindungi kalian.”
Ia mendeklarasikannya dengan penuh rasa percaya diri.
*
Berkumpul di dalam gudang ternyata tidak membosankan seperti yang dikira.
Di dalam hanya ada kaum wanita dan anak-anak.
Dan kepopuleran Krische di antara mereka membuat Krische jauh dari kata bosan, malah ia sangat sibuk.
“Ini, silakan dibagi-bagi.”
Krische sedang memotong buah-buahan di dalam gudang dan membagikannya kepada anak-anak.
Ada banyak makanan di dalam gudang.
Daging disimpan di tempat terpisah, tetapi hasil panen dan buah-buahan yang tahan lama disimpan di sini.
Begitu berada di dalam, Krische langsung berpikir tentang bagaimana ia bisa memakan buah-buahan itu.
Mereka kemungkinan besar akan membiarkannya makan jika ia meminta.
Namun rasa estetika Krische menghalanginya dan tidak mengizinkannya melakukan hal itu.
Saat ia berpikir tentang cara untuk memakannya, anak-anak mulai mengeluh karena dikurung――hal itu memberi Krische inspirasi untuk pembenaran agar bisa memakan buah tersebut.
Krische menyampaikan sarannya dan mendapatkan persetujuan dari para wanita, sehingga diputuskan untuk memberikan buah-buahan—yang relatif mudah didapatkan kembali stoknya—kepada anak-anak.
Ada begitu banyak buah yang bisa ia pilih.
Meskipun Krische cepat merasa lapar, kapasitas perutnya tidak seberapa besar.
Khawatir ia akan terlalu kenyang untuk memakan semuanya, Krische berpikir lebih lanjut. Dan hasil dari kilatan inspirasi lainnya adalah mengambil inisiatif untuk mengupas dan membagikan buah-buahan tersebut.
“Tunggu, tidak boleh berebutan. Antre. Anak nakal yang melanggar aturan tidak dapat buah.”
Ya, ini adalah alur tindakan yang alami, pikir Krische saat ia dengan cepat mulai mengupas, memotong, dan membagikan buah.
Rencananya adalah memakan sebagian buah yang ia potong secara diam-diam, tetapi ada sesuatu yang tidak ia perhitungkan.
Kawanan anak-anak yang kelaparan.
Kecepatan mengupasnya tidak bisa mengejar tingkat konsumsi mereka.
“Nee-chan, aku baru dapat satu.”
“Gida, kamu sudah makan dua! Krische Onee-chan, selanjutnya giliran aku!”
“Er, er……tolong tunggu sebentar.”
Anak-anak tidak memiliki prasangka terhadap Krische, ia hanyalah seorang onee-san cantik yang mereka kagumi. Jadi secara alami, mereka lebih suka menerima buah dari tangannya.
Krische mengupas secepat yang ia bisa tetapi rencananya telah gagal, tidak ada satu pun buah yang masuk ke dalam mulutnya.
Perut Krische yang sudah mengantisipasi buah mulai memprotes kelaparan.
“Fufu, kamu populer banget ya. Ini Krische-chan, aahn.”
“Ah……ehehe.”
Para wanita di sekitarnya tersenyum getir dan menyuapi Krische buah yang telah mereka potong.
Berkat Galla dan Grace, sudah menjadi rahasia umum bahwa Krische secara mengejutkan sangat maruk.
'Alasan sempurna' milik Krische tidak berguna pada mereka. Mereka tertawa pelan di antara mereka sendiri saat menyuapi Krische.
Tanpa menyadarinya dan karena keinginannya telah terpenuhi, Krische berada dalam suasana hati yang baik. Ia dengan senang hati bekerja sebagai mesin pengupas buah.
Melihat Krische bertindak seperti biasa, ekspresi gelap di wajah para wanita berubah menjadi senyuman dan mereka mulai bergosip.
Meskipun Krische tidak menyadarinya, ia adalah tiang penyangga mental mereka dan topik pembicaraan berpusat di sekitarnya.
“Krische-chan, ada orang yang kamu sukai tidak? Siapa saja boleh?”
Mereka sesekali menanyakan hal-hal seperti ini dan Krische menjawabnya dengan sabar.
Krische mendapatkan banyak keuntungan dari menjaga niat baik mereka.
Itu juga karena harapan mereka sangat terasa jelas sehingga ia tidak punya pilihan selain menjawab.
“Suka……”
Meninggikan kepalanya sedikit, Krische berpikir tentang hal itu.
Apa arti dari 'suka'? Ini adalah masalah yang cukup sulit bagi Krische.
Pola pikir Krische dibangun di atas perasaan yang mirip seperti transaksi bisnis, berfokus pada keuntungan dan kerugian.
Orang yang memberikan keuntungan lebih 'disukai' daripada mereka yang menyebabkan kerugian.
Orang 'menyukai' mereka yang rela bekerja demi keuntungan orang lain. Sebaliknya, orang 'tidak menyukai' mereka yang hanya menerima keuntungan tanpa bekerja.
Itulah persepsi Krische tentang 'suka' dan 'tidak suka'. Dengan cara pandang Krische terhadap berbagai hal, pertanyaan jenis ini terlalu samar untuk ia pahami.
“Err, Krische suka kalian semua.”
“Ah, bukan itu maksudku……maksudku anak laki-laki.”
“Anak laki-laki……ah, Krische sangat menyukai Tou-sama dan Ojii-sama.”
Wanita yang bertanya itu menyerah, menepuk dahi dengan tangannya saat area sekeliling meledak dalam tawa.
Grace memeluk Krische, kelihatan sedikit malu.
“Sudah dong, tolong jangan menggodanya terus. Krische masih terlalu muda untuk hal-hal seperti itu……”
“Bukannya kamu menempel terus sama Gorka seperti lem di usia Krische sekarang?”
“T-Tidak boleh menggoda aku juga!”
Apakah jawaban itu memuaskan? Krische memiringkan kepalanya, memperhatikan para wanita tertawa, lalu kembali mengupas buah.
Memasukkan sepotong buah ke dalam mulut Krische, Galla tertawa riang.
“Kira-kira seperti apa ya tipe suami Krische nanti? Aku mungkin bakal memukulinya kalau ada bajingan yang mencoba memonopoli Krische-chan sendirian.”
Tawa pecah kembali. Krische mengabaikannya, mengunyah apel yang disuapkan padanya.
Rasa manis dan asam menyebar di dalam mulutnya, menciptakan momen kebahagiaan bagi Krische.
Krische menghabiskan waktu seperti ini, menunggu para bandit datang――dan serangan itu akhirnya tiba beberapa saat setelah matahari terbenam.
*
Secercah bulan sabit menggantung di langit malam. Api unggun telah dinyalakan di seluruh penjuru desa.
Para bandit bisa menggunakannya untuk membakar rumah-rumah, tetapi mereka membutuhkan penerangan untuk bisa menggunakan busur mereka.
Bahkan di antara pemanah ahli, tidak banyak yang bisa menjatuhkan target yang bergerak di dalam kegelapan.
Zaal mengambil alih komando di pusat desa.
Gorka dan Gallen menjadi pemimpin dari skuad pemanah mereka masing-masing, bersiap di atas atap rumah.
Saat lonceng peringatan berbunyi, Gorka melirik ke arah gudang tempat Krische dan Grace bersembunyi lalu memejamkan matanya sejenak, mengepalkan tangannya.
Kemudian ia melihat ke sampingnya.
“Zalba, siap?”
“Tentu saja.”
Di atas atap ada sahabat paling tepercaya Gorka, Zalba, dan satu orang lagi yang mengover area belakang mereka.
“Gado! Bagaimana denganmu?”
“Kamu pikir sedang bicara dengan siapa, Gorka. Kamu benar-benar berpikir aku bakal melakukan kesalahan?”
“Tidak. Aku sangat tahu keterampilanmu. Jaga bagian belakang kita.”
“Aah.”
Gado mengambil posisi. Dia adalah seorang pria kasar dengan kebiasaan minum yang buruk, tetapi dia sangat terampil.
“Kalau semuanya berjalan lancar, aku bakal traktir kamu bir lain kali.”
“Hah. Penawaran yang langka darimu. Bagaimana kalau biarkan aku meremas payudara Grace saja sebagai gantinya, tergantung bagaimana situasi berjalan nanti?”
“Jangan ngawur. Kata-katamu tidak terdengar seperti lelucon kalau datang darimu.”
Gorka melanjutkan dengan senyum garing.
“Aku tidak berpikir jumlah mereka sebanyak itu, tapi kalau mereka memutar ke arah sisimu, panggil kami.”
“Aah. Khawatirkan saja dirimu sendiri. Loncengnya sudah berbunyi tuh.”
“Aku tahu.”
Gorka menjawab sambil berfokus ke depan.
Mereka memiliki pemanah yang lebih sedikit daripada skuad Gallen, tetapi mereka memiliki keterampilan untuk menutupi hal tersebut.
Ada lebih banyak pria di darat yang bersenjatakan pedang di sisi ini, kekuatan tempur mereka terbagi secara merata.
Tidak masalah, pikir Gorka sambil mengangkat busurnya.
Sesuai dugaan, ada lebih dari empat puluh bandit, tetapi Gorka terus memberikan instruksi kepada mereka yang berada di atap lain.
Termasuk kontribusinya sendiri, mereka telah melumpuhkan sekitar sepuluh bandit.
Semua orang yang ditempatkan di sini adalah pemburu ahli.
Mereka biasanya berhadapan dengan hewan yang berlari kabur, jadi begitu mereka mengatasi rasa enggan untuk membidik manusia――rasa enggan untuk membunuh, memanah manusia bukanlah hal yang terlalu sulit.
Beruntung, mereka tidak perlu mengalami sensasi menusuk menembus daging secara langsung. Mereka juga melakukan ini untuk melindungi desa dan keluarga mereka; dengan berfokus pada perasaan itu, mereka bisa menekan keraguan mereka.
Mengingat orang-orang yang harus menghadapi para bandit dengan pedang, mereka tidak boleh ragu karena rasa takut.
Kenalan dan teman-teman mereka mempertaruhkan nyawa mereka di darat.
Berkat komunitas desa inilah sekelompok amatir bisa bertindak secara kompak.
Saat Gorka terus berteriak, ketegangan membuat mulutnya kering dan kata-katanya tertahan di tenggorokan.
Di bawah tekanan memanah manusia alih-alih hewan, Gorka mempertahankan komando keseluruhan yang baik.
Saat itulah Zalba memanggilnya.
“……Gorka, ini aneh.”
Para tentara bayaran dan sang pedagang telah membagi diri menjadi kelompok beranggotakan dua dan tiga orang.
Kelompok bertiga bersama sang pedagang bertugas menjaga sebuah area di bagian tenggara gudang ini.
Meskipun ada banyak korban dari area lain, mereka adalah satu-satunya kelompok yang tidak terlalu banyak mengalami pertempuran.
Meskipun mereka bertukar serangan, para bandit akan langsung kabur.
“Mereka pasti bersalah……ayo pergi.”
Situasinya menguntungkan, tetapi keadaan akan berbalik jika pria-pria itu berkhianat.
Meskipun ia setuju dengan Zalba, Gorka masih ragu-ragu.
Mereka bisa memanah para bandit.
Tapi jika mereka ternyata bukan――
Keraguan Gorka berlangsung sesaat.
Mengingat apa yang dikatakan Krische, ia memantapkan hatinya.
“……Aku mengerti. Zalba, kamu incar tentara bayaran yang di sebelah kiri.”
“Bagaimana denganmu?”
“Aku akan membidik pedagang palsu itu. Kalau mereka bersama bandit, dia kemungkinan besar pemimpinnya.”
“Paham.”
“Jangan sampai meleset.”
“Aah, ini lebih mudah daripada memanah rusa――u, gu!?”
“……!?”
Gorka menoleh ke arah suara tercekik Zalba.
Ada sebuah pedang yang menancap di dada Zalba.
Apa yang terj――, sebelum Gorka bisa menyelesaikan pikirannya, sesuatu yang dingin menembus dadanya.
“Ga, do……ken, apa……?”
“Oh? Kamu masih bisa bicara? Hehe……”
Gado telah menerjang Gorka, menusuknya dengan sebuah pedang pendek.
“Mereka memberiku penawaran. Lagipula, aku sudah muak dengan kehidupan di desa terpencil ini……jadi ini momen yang pas banget.”
“Ga, do……”
“Tenang saja, aku tidak butuh birmu, tapi aku bakal merawat Grace-mu dengan baik. Tidak ada wanita memikat seperti dia bahkan di kota……bahkan bocah aneh itu adalah kecantikan yang langka kalau cuma dilihat dari penampilannya, dia bakal laku mahal.”
“――ah!?”
Dengan suara tercekik, Gorka mengayunkan tinjunya penuh rasa benci. Namun Gado memutar bilah pedangnya seolah-olah sedang menyembelih hewan, mengakhiri hidup Gorka.
Kemudian Gado menggunakan batu untuk memberi sinyal kepada sang pedagang――pemimpin para bandit.
*
“……Ini aneh.”
Setelah beberapa saat, Gallen menangkap basah kekacauan di sisi tenggara yang dijaga Gorka.
Apakah Gorka melakukan kesalahan? Tapi itu sulit dipercaya.
Gallen sangat paham dengan kemampuan Gorka.
Jika tidak, ia tidak akan membiarkan Gorka menikahi putri kesayangannya.
Gorka adalah pria yang telah dipercayakan putri Gallen kepadanya.
Bahkan dengan adanya Gorka di sana, sesuatu yang tidak biasa telah terjadi.
Atau mungkin sesuatu yang tidak bisa ditangani oleh Gorka sekalipun telah terjadi.
Insting Gallen dari medan perang bereaksi.
Gallen tiba-tiba memutar tubuhnya ke arah hawa keberadaan di belakangnya.
Tinju Gallen menghantam perut sang pengkhianat dalam gerakan terlatih sebelum pria itu bisa melakukan apa pun dengan pedangnya.
Gallen telah lolos dari kematian berkali-kali, naik pangkat hingga menjadi centurion.
Tubuhnya mungkin sudah tua, tetapi ia belum melupakan ketegangan medan perang.
Pria itu roboh sambil mengerang.
Jadi begitu ya, Gallen menggigit bibirnya.
――Yang artinya mereka benar-benar bersalah.
Gallen sebelumnya tidak bisa memutuskan apakah para tentara bayaran itu kawan atau lawan, tetapi ia membuat keputusan dingin di saat itu juga.
Tidak ada waktu untuk berbicara. Gallen menusukkan pedang pendek ke punggung pria itu.
Dia adalah warga desa dan Gallen telah minum bersamanya berkali-kali.
Namun Gallen telah menghabiskan waktu yang lama di neraka medan perang.
Dengan kekejaman yang dipelajarinya saat itu, ia memutar pedang pendeknya, mengubah pria itu menjadi mayat, lalu menyesuaikan genggamannya pada busurnya.
Memasang anak panah, ia menarik talinya ke belakang, lalu melepaskannya tanpa ragu-ragu.
Saat anak panah menancap di punggung sang tentara bayaran, ia melompat turun dari atap, menarik pedang di pinggangnya.
Tubuh tuanya gemertak akibat benturan, tetapi ia mengabaikannya.
Tentara bayaran itu roboh kesakitan――yang satunya lagi masih menatap rekannya dengan bingung.
Membidik pria yang masih berdiri, Gallen menyempitkan matanya dan memangkas jarak sebelum pria itu bisa pulih dari kebingungannya.
Pedang medan perang Gallen yang ganas diayunkan ke arah bahu pria itu.
Ia dengan mudah menebas bahu sang bandit, menembus tulang, mengubahrnya menjadi mayat.
Kemudian ia menusuk jantung pria lain yang roboh tadi, menghabisinya.
Ekspresi Gallen adalah campuran dari kemarahan yang membara dan kekejaman yang dingin.
Para pria di atap sekeliling menatap Gallen dengan terkejut.
“Para pedagang itu bersekongkol dengan bandit!! Ada pengkhianat di antara warga desa! Sisi Gorka kacau, kalian semua tetap di sini. Aku akan ke sana! Aran, Dick, ikuti aku!”
Dua pria yang dipanggilnya melompat turun dan mengikutinya.
Seharusnya tidak ada banyak pengkhianat.
Namun daripada bertarung bersama elemen yang tidak pasti, lebih baik pergi hanya dengan mereka yang ia percayai.
Jumlah mereka memang kurang, tetapi ini adalah metode terbaik.
Mengangguk kepada mereka berdua yang memahami situasi, Gallen melesat pergi.
*
Namun kelompok yang menerobos pertahanan tenggara yang runtuh tiba di gudang sebelum Gallen.
Warga desa hanya memiliki sedikit pelatihan dalam ilmu pedang.
Selain mereka yang memiliki pengalaman bertempur, sebagian besar adalah warga desa biasa dengan sedikit pelatihan.
Begitu mereka kehilangan komando, mereka hancur menjadi massa yang tidak teratur.
“……Gorka sudah tidak ada?”
“Iya. Gorka sudah mati.”
Zaal menerima guncangan mendengar kabar kematian Gorka. Ia memegang komando di pusat dan sekarang harus memikirkan cara untuk membangun kembali pertahanan. Ia memeras otaknya, satu-satunya bagian dari tubuh tuanya yang tidak melemah oleh usia.
――Satu-satunya pilihan adalah memperpendek barisan pertahanan.
Untuk mempertahankan moral warga desa yang tidak terbiasa dengan pertempuran atau pembunuhan, mereka harus berkumpul.
Ia menarik napas dalam-dalam untuk memanggil para pria agar berkumpul,
“Jadi kakek tua, kamu harus menyerah dan tidur juga sana.”
Tapi hanya udara yang keluar dari mulutnya.
Salah satu pria yang kabur dari arah tenggara――sang pedagang menunjukkan sifat aslinya, sebuah senyuman jahat terukir di wajahnya.
Para pria di sekitar tidak bisa memahami apa yang terjadi untuk sekejap.
Seorang pria yang mereka kira adalah sekutu, telah menusuk rusuk pemimpin mereka dengan pisau.
Zaal jatuh berlutut.
Para pria di sekitar dengan cepat ditebas atau ditusuk hingga tewas oleh para tentara bayaran dan pengkhianat.
Para pria yang akhirnya berhasil lolos dari kekacauan di tenggara melihat pemandangan itu dan berteriak, tahu bahwa mereka tidak punya tempat untuk lari.
Tanpa adanya pemimpin, para pria dibantai satu per satu, membasahi area itu dengan darah.
“Baaagus, cukup. Sisi kanan mereka masih hidup, jadi tetap siaga.”
“Hehe, Bos, apa sudah waktunya untuk bersenang-senang……?”
“Paling cepat para penambang bakal kembali besok saat matahari terbenam. Begitu situasi mereda, kita bisa bersenang-senang malam ini……oi, buka pintunya.”
Sang pedagang――bos para bandit memberi perintah kepada pria-pria yang membawa palu.
Bahkan jika bagian dalamnya dibarikade, ini hanya masalah waktu.
Ini cuma gudang biasa.
Pintunya mungkin dibuat kokoh tapi itu cuma pintu gudang.
Setiap kali palu diayunkan, sebuah lubang baru tercipta di pintu――diiringi oleh jeritan kaum wanita dan anak-anak.
Dengan satu ayunan terakhir, pintu itu akhirnya hancur dan beberapa wanita keluar menerobos.
Mereka panik dan mencoba kabur, tetapi semuanya ditangkap dan dibunuh untuk dijadikan contoh. Ada yang ditusuk dengan pedang sementara yang lain tengkoraknya dihancurkan dengan palu.
――Jeritan bergema di sepanjang malam.
“Patuhi kami, kami tidak akan membunuh kalian kalau kalian penurut, oke? Tapi kalau kalian melawan――”
“Hii, Gyaaaa……!?”
Sang pemimpin memotong satu jari wanita yang tertangkap dengan pedangnya.
Orang-orang lain yang tersisa di dalam gudang menutup telinga mereka, memejamkan mata rapat-rapat.
“Kalian akan dihukum dan dibunuh karena perlawanan kalian.”
Bibir pria itu melengkung membentuk senyuman kejam seperti binatang.
“Keluar pelan-pelan. Jangan buat gerakan aneh.”
Beberapa anak tidak sanggup menahan rasa takut dan mencoba berlari, hanya untuk dibunuh.
Mereka sangat kejam.
Wanita atau anak-anak, siapa pun yang tidak mematuhi perintah dibunuh tanpa ampun.
Mereka tidak punya pilihan.
Orang-orang yang tersisa di gudang bergerak keluar ke alun-alun, berkumpul di sekitar sumur, saling merangkul satu sama lain.
Menemukan seorang gadis tertentu di antara mereka, sang pemimpin memanggilnya dengan cengiran.
“Oooh, itu dia. Jou-chan, kemari.”
Meskipun ada tragedi di sekitarnya, gadis berambut perak itu sama sekali tidak mengekspresikan apa pun.
Matanya hanya mengamati sekelilingnya saat ia perlahan-lahan berbalik ke arah pria itu.